Untitled #3

Dau bulan terakhir terasa lebih berat dibanding bulan-bulan sebelumnya, dalam segala hal yang sedang gue jalani. Semua seakan bertumpuk dalam satu waktu, dan seakan tidak pernah selesai. Stress? Pasti. Berhenti? Bukan menjadi pilihan🙂

Mungkin ini kesempatan yang diberikan Allah untuk muhasabah, apa sebenarnya yang salah dari gue. Mungkin sholatnya masih suka terlambat, mungkin sebelum memulai sesuatu lupa baca basmalah, mungkin niat gue untuk melakukan sesuatu belum selurus itu, dan mungkin gue masih menjadi manusia yang kufur nikmat.

Ada beberapa hal yang gue sadari, yang sering menjadi pemicu gelisah:

  1. Kurang percaya diri, atau kurang yakin kepada Allah.
  2. Selalu membandingkan hal yang gue miliki saat ini dengan apa yang tidak gue miliki, padahal belum tentu itu lebih baik dari apa yang gue miliki sekarang
  3. Berburuk sangka (suudzon)

Semoga bisa menjadi pengingat untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini🙂

Untitled #3

10 Alasan Kenapa Harus Mulai Nulis. Semuanya akan membuat terkejut, karena ternyata ga ada 10.

csfka14396315302

Wow, judul yang sangat nonsense! wqwq *lagi belajar copywriting ala Dewa Eka Prayoga*

Hai! Assalamualaikum! Sudah cukup lama juga saya tidak menulis di blog ini, yang semoga kedepannya bisa lebih rajin lagi dalam menulis, biar otak ga mikirinnya itu-itu aja😀

Yang saya jalani saat terakhir saya menulis, jika dibandingkan dengan hari ini bisa dikatakan banyak yang berbeda. Mulai dari domisili tempat tinggal, hingga orang yang sedang tinggal di hati :p

Kesibukan saat ini sedang menjalankan beberapa bisnis sambil kursus bisnis di ITB (Iya, ITB. Kampus yang dulu NOLAK saya sampe tiga kali), khususnya di kelas Creative and Cultural Entrepreneurship. Mayan bos, kursus bisnis 1.5 tahun terus dapet ijazah dan gelar MBA pas udah kelar kursusnya🙂 Sekarang lagi ngerjain TA nih, semoga dalam waktu sebulan udah bisa lulus deh ya..

Oke, ada satu hal yang membuat saya memutuskan untuk mencoba memulai kembali menulis disini. Salah satunya karena beberapa hari yang lalu saya membaca suatu tulisan dari salah satu alumni Forum Indonesia Muda (FIM) di salah satu grup WhatsApp yang saya ikuti. Tulisan tersebut berisi tentang makna mencari dan mengamalkan ilmu, khususnya tujuan untuk meneruskan studi di jenjang magister.

Ini pertanyaan lazim buat orang yang nerusin sekolah:

“Apa sih tujuan lo kuliah (lagi)?”

Jawaban orang-orang sih bisa macem-macem. Bisa dari nambal IPK s1, karena termotivasi sama pasangan yang udah nerusin sekolah duluan, jalan-jalan gratis ke luar negeri, nonton emyu di Old Trafford, bosen ditolakin pas nyari kerja, syarat nikah, mau nyobain wisuda lebih dari sekali, atau bahkan saking cintanya sama ilmu jadi ga bisa lepas sama dunia akademik. Ya, gitulah hidup. keras.

Itu bebas, itu hak kita masing-masing mau nerusin ke jenjang pendidikan selanjutnya dengan latar belakang apa. Itu hak kita juga mau maju ke jenjang pelaminan dengan gelar apa. Hidup juga hidup kita, yegazi?

Satu hal penting yang saya sadari di masa akhir kursus disini: ternyata ga ada bedanya antara anak S1 dengan S2. Yang membedakan tiap individu ada di skill, baik di hard skill maupun soft skill. Saya ga mau ngebahas lebih lanjut apa itu hard skill maupun soft skill. Dari jaman Roger belom umrah aja udah pada dikasih tau kali apa bedanya dua istilah diatas. Setinggi-tingginya kita menuntut ilmu, akan percuma bila kita tidak bisa mengamalkan. Kita bukan burung, yang emang hidupnya terbang kesana kemari di langit. Kita juga bukan genderuwo, sundel bolong, atau sejenisnya yang bisa diterima sesamanya (emang iya ya mereka pada rukun dan saling menerima?) dengan tanpa harus menapak bumi. Kita manusia, yang hidup di bumi. Kita boleh punya ilmu tinggi, namun semuanya harus kembali ke bawah, bisa diterima dan bermanfaat bagi sekitar. Hal paling kecil yang bisa dilakukan adalah dengan berbagi ilmu melalui tulisan. Bisa dari status di media sosial, blog, dan sebagainya. Tidak harus berat, yang penting bisa dipahami orang lain. Insya Allah bisa jadi amal jariah buat kita..

Jadi, itu sih yang melatarbelakangi saya untuk mau mencoba untuk nulis lagi. Ilmu yang kita dapetin terlalu sayang jika disimpan sendiri. Pengalaman yang kita lalui terlalu berharga jika hanya berakhir di memori pribadi. Kita tidak akan pernah tahu, jika pengalaman kita sukses membuat tahu bulat ternyata bisa menginspirasi orang lain, misalnya. Atau, prestasi kita nangkep Pikachu setelah muterin kota Bandung 2 hari 2 malam, ternyata menghilhami orang lain untuk bertindak mengejar ketidakpentingan yang serupa, misalnya. Bisa jadi kan??

Yaaa tulisan-tulisan kedepan sih ga akan jauh dari kejadian-kejadian di kehidupan saya yang bisa dibiang ajaib yang berputar di sekolah, bisnis, pikiran random, dan lainnya. Maunya sih bikin tips Relationship Goals gitu macem @awkarin, tapi apa daya, saya ga se-seksi beliau.

Sudah. Gitu aja.

Gotta Catch Em All!

PS: Ada yang tahu ga kenapa gambar diatas mesti Shinchan lagi lari? Ga usah dijaawab, ga penting.

10 Alasan Kenapa Harus Mulai Nulis. Semuanya akan membuat terkejut, karena ternyata ga ada 10.

Nasi Sudah Menjadi Bubur? Buburnya Masih Bisa DImakan Kan?

Kehidupan itu dinamis, selalu berubah-ubah tanpa kita tahu perubahan itu akan menuju kemana. Sedang menuju kearah yang lebih baik, atau mungkin sebaliknya. Kalo diibaratin hal lain mungkin lebih populer analogi roda deh. Hidup itu terus berputar. Kadang diatas, kadang dibawah. Nah, di kesempatan ini saya mau ngebahas dari sisi bawahnya deh, alias disaat kita jatuh.

 

Siapa sih yang mau jatuh? Kayaknya ga ada deh satupun dari kita yang mengalaminya. Tapi, suka gak suka, setiap orang pasti mengalami hal ini, walaupun itu menyakitkan. Banyak efek yang bisa ditimbulkan kalo udah jatuh. Salah satu efek yang paling gilanya yaitu kehilangan percaya diri. Setuju? Ada yang pernah? Saya ngacung duluan deh J suatu kegagalan dalam hidup memang bervariasi, namun efek yang ditimbulkan pun beragam. Saya pernah mengalami kegagalan dalam hidupyang mengakibakan saya kurang percaya diri dalam melakukan hal sejenis lainnya. Itu sangat mengganggu. Kalo digambarkan, mungkin ibarat berdiri di suangan 1×1 mungkin. Gerak kemana aja juga pasti mentok kemana-mana, ga ada kemajuan. Hal ini yang membuat saya melakukan langkah berikutnya untuk keluar dari ruangan yang sempit ini, yaitu dengan cara sharing dengan orang yang sangat saya percayai dan pengalamannya pun banyak. Saya mendapatkan banyak hal dalam sharing dengan “mentor” saya tersebut. Inti pesannya adalah : Semua orang pasti pernah berbuat salah, jangan takut untuk mengakui kesalahan dan jangan takut untuk berusaha memperbaiki kesalahan tersebut di masa yang akan datang. Jadikan pengalaman yang didapat dari kesalahan tersebut sebagai batu lompatan untuk menghindari lubang yang sama. Yang terakhir, yakinlah bahwa Tuhan pasti punya rencana yang manis dalam hidup kita, yakinilah juga bahwa tidak ada yang sia – sia dalam hidup ini..

 

Kata orang dalam menganalogikan penyesalan : “Nasi sudah menjadi bubur”. Iya sih memag begitu. Hal yang telah terjadi memang tidak bisa diulang. Tapi coba kita tambahin komen dikit, ‘Tapi bubur juga masih enak kan buat dimakan?” hehe. Jangan jadiin penyesalan sebagai pelampiasan dalam meratapi kesalahan, tapi nikmatilah penyesalan itu menjadi pelajaran yang berharga sehingga kita tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari..

Nasi Sudah Menjadi Bubur? Buburnya Masih Bisa DImakan Kan?

Tonight’s Best Words

20121218-203150.jpg

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma – which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of other’s opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

– Steve Jobs

Tonight’s Best Words

Untitled #1

Sebenarnya gue ga tau mau nulis apa. Mungkin ada yang pernah merasakan seketika down tapi ga tau apa sih sebenernya penyebab lo bisa down.

Sotoy nya gue, mungkin ini karena akumulasi dari semua masalah yang belum terselesaikan. Seketika mampir di kepala, lalu turun ke dada, dan voila! Dada sesak tanpa tau bagaimana caranya bangkit. Tanpa tau apa penyebab inti dari kegelisahan, dan lainnya.

Saran gue, pada saat kaya gini yang harusnya dilakukan cuma satu. Inget Tuhan. Karena bagaimanapun kita merasa sepi dan sendiri di dunia ini, sesungguhnya Tuhan lebih dekat dari urat nadi lehermu. Manfaatkan saja rasa sepi yang sedang singgah sebagai media perenungan dan introspeksi diri. Because after all, life must keep going, my friends.

Untitled #1

Melintas di Kepala

20121101-010832.jpg

Gue ngepost ini pada malam hari. Malam dimana gue sedang bergulat dengan makroekonomi tercinta. Malam dimana gue ngerasa manusia paling useless di dunia karena ga mengerti beberapa bab untuk materi ujian pada siang harinya.

Beberapa hari sebelumnya, gue pernah ngomong ke beberapa kawan mengenai wake up call dari diri sendiri ketika jenuh dalam melakukan sesuatu. Ya, kalimat tersebut juga gue kutip dari salah satu kawan. Kurang lebih kalimatnya berbunyi seperti ini : “Apabila kalian mengalami kejenuhan dalam melakukan sesuatu, maka ingatlah semangat awal ketika ingin terlibat dalam hal tersebut. Antusiasme itulah yang akan membawa kalian tetap semangat.”

Ya, kalimat tersebut mungkin pantas diingat pada saat seperti ini. Depresi belajar, merasa bodoh akan segala hal, dan perasaan bersalah lain mungkin muncul di diri ini. Namun, saat ini yang diingat bukan saat memulainya, namun dukungan semangat dari orang sekitar kita. Ketika teringat support dari orang-orang terdekat, seketika semuanya hilang. Gue iseng buka grup FGD di Whatsapp dan menemukan voice note dari kedua sahabat, @daelah dan @galaleaselesta. Gue denger, dan baru sadar, bahwa dukungan terhadap diri lo pasti ada disekitar lo. Terkadang kita emang lupa dengan dukungan orang sekitar, terutama orang tua. Orang tua yang sudah mendukung kita mati-matian, sudah berdoa setiap malam untuk kesuksesan kita, dan selalu mengusahakan yang terbaik untuk kita… Semua tidak ada artinya apabila kita, sebagai anaknya mudah menyerah dalam amanah ini, yakni menuntut ilmu. Ilmu akademik maupun ilmu kehidupan di kampus pertanian ini…

Semoga kita selalu dijauhkan dari rasa mudah menyerah ya, kawan. Dengan begitu, kita akan membuat orang disekitar kita bangga dengan apa yang kita raih nanti. Amin🙂

Ketika merasa semua akan berakhir, ingatlah bahwa diluar sana pasti ada yang mendukung lo dalam meraih cita-cita.

Melintas di Kepala